one way to the top, Ijen’s wonderful sight!

Me and Fatin have a lot in common. For example while we are on a bike, she and I call random people with random names and laugh out loud and spur the bike like crazy ūüėÜ . So, when she mentioned Ijen for our upcoming trip, I was like, “Yeah I’m in” without thinking it any further. This was my first experience ever of hiking any mountains ūüôā

Meski last minute, tp bisa juga ngumpulin 5 personel termasuk saya dan Fatin, Calvin, Deena (perempuan Solo yang super ga kalem) dan seorang bule entah dipungut dari social media mana sehingga ikut2an terlibat :roll:. Modal berangkat: Baju, celana, kolor, masker, syal, jaket berlapis, sepatu berkaos kaki tebal, plus Galon Magic 2 biji.

Gunung Ijen kian hari kian terkenal, karena fenomena blue fire nya yang makin famous baik di kalangan pendaki gunung sejati, kalangan pemburu foto, kalangan wisatawan mancanegara dan juga kalangan backpacker. Pokoknya semua kalangan lah. Gunung Ijen merupakan gunung berapi aktif yang terletak di propinsi Jawa Timut, perbatasan kabupaten Banyuwangi dengan Bondowoso, dengan ketinggian 2,443mdpl. Juga jadi salah satu dari 2 gunung di dunia yang mengeluarkan api biru. Alasan utama perjalanan ini terjadi. As a side not, pemerintah kabupaten Banyuwangi kayaknya dah sadar betul kalo sektor pariwisata harus dikembangkan, mengingat potensi nya kuat banget. Makanya banyak event yang diselenggarakan di Ijen.

We started our trip by motorcycle (of course!), menuju Pelabuhan Gilimanuk sebagai akses sampe ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, dengan dibumbui hujan selama 2 jam, busi motor si bule rusak sampe ga bisa idup, dan motor saya ban nya pecah 3km sebelum sampe ke pelabuhan. Berbeda halnya kalo ke Lombok, perjalanan darat ke seberang Pulau Jawa lebih lama, cuma pas di kapal feri agak singkat, paling cuma 45 menit atau 1 jam deh paling lama. Yang menarik perhatian saya adalah, ternyata di sekitaran pelabuhan Banyuwangi itu udah banyak hotel2 disisi jalan. Ada yg kece2, ada yg ece2, pokoknya kalo mw nginep di sekitaran pelabuhan banyak pilihan lah.

Okay, Deena adalah cewe yang bawelnya setengah mampus. So we had so much fun on the bike, laughing and rowing each other, tapi walaupun recok, bahasa Jawa keratonnya mumpuni coyy… Jadi urusan tanya2 jalan udah ada interpreternya. Tak lupa, kami mempercayakan urusan rute sama aplikasi GPS terkini, apalagi kalo bukan Waze. Hingga detik ini app nya masih bisa diunduh gratis, untuk pengguna sistem Android bisa download¬†disini¬†yg punya iOS bisa download¬†disitu. Tapi emang Waze nih anti mainstream, jadi dituntunlah kami ke jalan gelap nan sepi penuh rintangan, kerikil2 tajam dan cobaan tiada henti selama >1km menuju Ijen. Nista. Tapi emang yah HONDA SCOOPY edaran 2011 ga ada matinye, mau jalan kayak gimana juga oke2 aja. Profil HONDA SCOOPY¬†bisa di cek¬†disono.

Mendaki ke Ijen dikenakan biaya karcis 3000perak buat domestik, dan 150k (!) buat wisman. Tanpa pemandu. Jadi ya mendaki sendiri, bertanya2 sendiri :|. Untuk mendapatkan pengalaman blue fire emang katanya ga mudah. Perjalanan mendaki harus dimulai jam 1 pagi (bisa juga kali ya dari jam 12) karena pendaki bakalan

Congratulation!
Congratulation!

ngelewatin >3km sampe puncak, dengan medan yang semakin terjal semakin ke atas. Kata petugas di postnya, proses pendakian bakal makan waktu 2 jam paling cepat dengan kecepatan jalan stabil, dan 4 jam kalo intensitas istirahatnya sering. Sementara fenomena blue fire Ijen sendiri terjadi kisaran jam 2 ampe jam 4 subuh. Due to bad weather and they said it was too dangerous to escalate early between 1am-3am, pendaki yg udah membludak¬†disuruh menunggu ampe jam 4 subuh buat mulai mendaki. Artinya, kami mesti nunggu ampe 5 jam dengan diselimuti udara temperatur ampe 3derajat celcius. Tapi sesungguhnya sensasi mendaki itu bukan cuma karena blue fire aja, tapi kebersamaan dengan pendaki lain yang ga saling kenal, merasakan capek yang sama ga peduli cewe cowo, demi punya pengalaman buat menapai puncak gunung, and be amazed of God’s amazing creation. And there is no way we dont hike the mountain just because we cannot experience the blue fire, right!

On the way we were hiking the mountain up to the top, we were sparking the spirit to one another. That is one of the coolest thing about hiking. Sesungguhnya di lubuk

People have their own way to survive, this is one of them
People have their own way to survive, this is one of them

sanubari paling dalam, ada rasa ingin menyerah dan menyudahi pendakian. But when I saw the miners going up and down to collect the 100kg sulfur from the crater, that lifted my spirit not to give up easily. Dan api semangat layaknya bintang iklan Kratingdaeng M150, saya pun menjajal tenaga dan tekad emosional untuk menuju puncak. Walopun saya sempet ninggalin trio Calvin-Fatin-Deena dibelakang, dan si bule pun hilang tanpa jejak di tengah perjalanan, tapi rekoleksi dan reuni kami diatas puncak membuat kami sampe nangis sesenggrukan bagaikan sahabat lama yang udah 1 dasawarsa tak jumpa (Bohong! Adegan ini ga pernah ada!).

On-top recollection
On-top recollection

I could not say any single thing when we were gathered on the top. Just taking it all in, inhaling and exhaling, just seeing the fucking beautiful panorama, and dropped my body on the ground. Others did the same thing I did. Tapi ada juga sih yang langsung selfi sana sini, mungkin takut batere hape nya keburu abis.

'Nother sight of Ijen crater with the miner
‘Nother sight of Ijen crater with the miner

Dipuncak ada beberapa penjual kerajinan dari belerang, kebayang ga sih mereka¬†mesti naik dengan bawaan berat demi menjual macam2 kerajinan yang harganya 25k-50k. Mereka juga sekalian kerja sebagai penambang sulfur, yang dari jam 12 malem harus udah naik kemudian turun kawan ngambil sulfur dengan berat kisaran 75-100kg, naik dr kawah kemudian turun gunung. Bisa ampe 4x bolak balik. Njirrr! Harga jualnya pun ga seberapa…. Kita bisa ambil hikmah bukan hanya dari fenomena blue fire, tapi fenomena kehidupan masyarakat di sekitaran Ijen.

Ada naik, ada turun, dan siapa bilang turun dari gunung lebih enteng. No. Mesti nahan tekanan supaya ga menggelinding bebas pas turun gunung, and it was irritating. Tapi lagi2 liat penambang belerang yang turun dengan beban berpuluh2 kg dipundaknya, bikin semangat buat turun kembali berapi2. An old guy saw my Galon Magic and he requested me to give it up to him. Initially, I was reluctant to give it to him. But then I thought he needs it to carry sufficient amount of water for his work, so I gave it and wished him luck!

IMG_0166

It was only one day and one night, and it felt like our body has broken into pieces because we had no sleep for hours. To remember that we have another 6 hours of going back to Denpasar, we were speechless ūüėē

Wajah nista nestapa perjalan pulang ke DPS
Wajah nista nestapa perjalan pulang ke DPS

Notes:

РGilimanuk РKetapang is 25k/bike 

– Several photos are coutesy of Fatin’s mobile phone

(this wonderful adventure was on 7-8 February 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s