long-awaited lovina, a wild 1-day trip

We’ve been staying in Bali for years, tapi kesempatan buat ketemu sama lumba2 di Lovina tuh baru kejadian di tahun ini. Sad, isn’t it? Dan yang dimaksud dengan “we” disini adalah saya sama karib saya namanya Fatin. Yah, we named her after her most favorite Indonesia singer, Fatin Shidqia Lubis 😆

Anyway, beberapa bulan lalu si Fendi (adiknya si Fatin) ngabisin waktu liburan di Bali dan kenalan ama beberapa  anak-anak Fak (baca yang bener) Pariwisata UNUD. Dari pergaulan si Fendi, saya dan Fatin bisa kenal sama adik2 kelas, yang pada saat itu punya planning mau ke Lovina, buat ketemu ama lumba2. Laut Lovina emang terkenal sebagai salah satu habitat lumba2 yang jumlahnya banyak di perairan utara Bali ini. Well buat kamu yang belom tau, Lovina itu masuk dalam Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Buleleng juga merupakan Kabupaten dengan area terluas di Bali, terbentang dari timur ampe barat Bali Utara. Luas kan?!  So, planning nya adalah kita berangkat Sabtu, tapi karena si Fatin harus menunaikan tugas sebagai seorang wanita kariyer, maka Fendi beserta teman2nya berangkat duluan siang nya, saya dan Fatin berangkat jam 7 malam. Brave.

Jam 7 malam cabut, nyampe Mengwi disambut dengan gerimis dan udara dingin, situasi ini bertahan sampe kami tiba di Kota Singaraja (ibukota Kab Buleleng). 2 jam diserang ama gerimis turned to hujan bikin kita mabuk kepayang. Banyak drama terjadi selama 3 jam total perjalanan, ampe hampir nyemplung ke jurang karena jarak pandang yang pendek dan pekat gegara kabut asmara.

Selamat datang di Singaraja
Selamat datang di Singaraja

Yeni, seorang gadis ramah nan bersahaja, menyambut kami di salah satu perempatan kota Singaraja. Ya, Yeni adalah putri pribumi Buleleng, kuliah di FakPar UNUD, satu kelas dengan teman2 si Fendi. Ternyata semalam itu kami disambut baik sama keluarga nya Yeni, dan diperbolehkan menginap di salah satu villa milik keluarga Yeni. Orang Singaraja emang top.

Kalo mau liat lumba2 dengan mata kepala sendiri katanya harus pagi2 jam 6 gitu, supaya ga ketinggalan. Soalnya kalo keburu siang lumba2nya takut item katanya. Jadi dg semangat 45 saya, Fatin dan Yeni langsung bangun pagi, lain halnya

Cowo dan cewe Asli Batak yang ganteng dan cantiknya naujubilah
Cowo dan cewe Asli Batak yang ganteng dan cantiknya naujubilah

dengan teman2 yang lain yg ilernya masih nempel di pipi. Jam 7 nyampe pantai, nego ama tukang perahu (yang notabene ada ikatan sodara dengan si Yeni) jadilah bayar 50rb per orang. Kalo mau snorkeling nambah 25rb. Keren kan, dg harga segitu udah bisa liat langsung lumba2 bergaya2 sok cantik di perairan Lovina 8)

Well, si Bapak perahu dan anaknya,Wildan pun memacu perahu kecil bermuatan 6 orang itu ke tengah laut,dan perahu2 lain sudah pada ngumpul disana layaknya ibu2 arisan. Kebanyakan emang bule2 yang sudah siap dengan kamera2 DSLR nya. Kami telat. Tapi ternyata lumba2nya baru mau mulai beraksi! Gillee,, this is my first time watching wild dolphins doing acrobats in the middle of the sea, plus cahaya matahari pagi yang bikin kulitnya nampak bersinar. Wonderful.

Bapak dan Wildan, our companies sailing away...
Bapak dan Wildan, our companies sailing away…
Yang keliatan cuma punggung lumba2 nya aja
Yang keliatan cuma punggung lumba2 nya aja
Perahu
Perahu

Ngambil foto lumba2 yang asik beraksi bakal susah kalo cuma ngandelin kamera handphone. So I gave up,letting my eyes became the only witnesses of the dolphins’ sea dance.

Jam tengah 9 lumba2nya dah pada ngacir, dan Bapak perahu memacu tunggangan kami ke bagian laut yang pas buat snorkeling. Beberapa dari kami emang pengen snorkeling, termasuk si Yeni. Baru setengah jam snorkeling ternyata anak2 udah pada mabok laut dan merengek2 pengen balik ke daratan, ga terkecuali saya sendiri. So, we went back to the beach and kongkow for a while in Penimbangan Beach, the most gawl tongkrongan place for Singaraja’s teens 😆

Then, the separation came.

Sebelom balik ke Denpasar, saya dan Fatin mampir ke salah satu vihara Buddha namanya Brahma Vihara Arama yang terletak di…. ya pokoknya beberapa kilometer dari Lovina lah. Saya lupa. Fatin lupa. Kawasan vihara nya oke, sejuk, ga bayar, trus ada bangunan mirip kek Borobudur. Lumayan lah buat nenangin hati yang penat gegara kerjaan di kota.

Ganteng bener
Ganteng bener

Kami berdua adalah pekerja yang berpenghasilan, tapi kalo ada kesempatan traveling dengan dana minim, kami akan ambil langkah seribu untuk merebut kesempatan itu. Ya, kami emang gsuka kesurupan kalo ada yang murah, sampe badai angin hujan menerjang pun kami arungi. Saya dan Fatin, Big thanks to Yeni for guiding us, and letting us enjoy the Lovina and its dolphin friends.

Pay respect to your country!
Pay respect to your country!

See you guys in next trips! 😀

Notes:

Balik dari Singaraja kami ngambil jalur Moding biar bisa langsung tembus ke Bedugul tanpa mesti lewatin lika liku GitGit, dan kembali diserang gerimis dan kabut super pekat. Nyampe Bedugul jadi saksi mata truk gede nyemplung ke jurang. Thrills!

Several photos courtesy of Fatin

(This historical moment took place in Singaraja and Lovina, Buleleng, 17 and 18 Jan, 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s