a runaway to lombok, the journey that built me a traveller part 2

Ntah kenapa abis snorkeling di 3 Gili, kompakan bertiga ga mw stay semalem di Gili Trawangan. Tiba2 aja terbersit pengen ke Pink Bich yang di Jerowaru. Well, siang nya abis snorkeling langsung balik lagi ke Senggigi, dan balik lagi stay di Elen Hotel :D.

Pink Beach menjadi destinasi dadakan yg sebelumnya ga ada di itenerary, dan cek2 di maps jaraknya lumayan jauh kalo dr Senggigi. Kira2 makan waktu 3 jam-an lah. Asumsi awal sih gitu. Jadi jam 5 subuh saya serta 2 makhluk lainnya udah on the way dan menggantungkan nasib ke si GPS masa kini, Waze. Aplikasi nya bisa didownload disini (Android) dan disana (iOs).

Berhubung si Waze suka ngarahin ke rute yang ga ada trafik dan tercepat secara jarak, maka masuklah kami melewati rute antah berantah dengan kondisi jalan yang teramat buruk. Anyway, Pink Beach atau Pantai Tangsi itu ada di Jerowaru, Lombok Timur. Waktu kami kesana, kayaknya lagi musim kemarau sehingga pohon-pohon di sekeliling bener2 kering kerontang, jam 8 pagi aja udaranya udah nyengat banget. Keluar dari jalan antah berantah itu, kami kembali ditemukan dengan jalan beraspal, dan ada plank masuk Pink Beach 15km lagi. Jalanan beraspal juga, oh aman, dalam hati berujar. Baru 2 km, ternyata jalan beraspal berubah menjadi jalanan berpasir dan berdebu, kerikil2 kecil sebagai cover jalan. 13m itu pantat kami kembali disiksa dengan kondisi jalan yang semakin lama semakin berkerikil. Mungkin kalo pake mobil perjalanan ga akan semenyiksa ini, tapi yg bikin seru dari sebuah eksplorasi ya hal2 kayak begini. Selama pencarian Pink Beach itu, di sekeliling hanya ada pohon2 dengan ranting2 kering yang ga berdaun, bangunan2 pemerintahan yang kayaknya ga dipake lagi dan 1-2 warung serta beberapa kepala masyarakat setempat. Disini saya bener2 menikmati keseruan berpetualang, meskipun panas nya naujubilah.

Salah satu kantor pemerintahan yang kayaknya udah ga keisi lagi
Salah satu kantor pemerintahan yang kayaknya udah ga keisi lagi

Akses Pink Beach bisa dibilang sangat ga bersahabat, satu2nya traveller yang jalan menuju kesana mungkin cuma kami bertiga aja, even mobil pun cuma sebiji aja yang kami temui menuju ke lokasi yang sama. Sebelum sampe di Pink Beach, kami melewati salah satu (atau mungkin) satu2nya hotel mewah nan mahal disana, Jeeva Beloam Beach Camp, yang harga permalam nya bisa ampe 9juta rupiah. Ya, 9 juta rupiah, Tanya2 dikit sama satpam, akhirnya dikasi petunjuk Pink Beach tinggal 500m lagi. 500m pun terasa kayak 5km krn jalanan yang berbatu kerikil.

Papan nama Jeeva Beloam Beach Camp, salah satu hotel termahal di area Beloam
Papan nama Jeeva Beloam Beach Camp, salah satu hotel termahal di area Beloam

Jam 8.45am, sepeda motor yang kami tumpangi bisa bernapas lega karena plank nama Pink Beach udah keliatan di depan mata. Dari kondisi plank nama dan post nya, keliatan banget kalo pemerintah daerah belum campur tangan dalam pengelolaan pantai ini. Dari muncul pintu masuk, kita mesti arungi jalan menurun yang juga masih berkerikil, ga rata dan sometimes ada batu2 segede kepalan tangan melintang. Mesti hati2 sih turun atau naiknya, biar ga slip.

Plank Pink Beach
Plank Pink Beach
Turunan masuk Pink Beach
Turunan masuk Pink Beach
Ladskap Pink Beach, kesan Pink nya tajam!
Lanskap Pink Beach, kesan Pink nya tajam!

Since we were the only travellers there, we could only see taverns which just opened. Most of the owners are from East Java who decided to resettle in Jerowaru for any reason that I didnt ask.

Pasir di Pantai ga serta merta keliatan warna Pink, tapi kalo disimak setelah ombak berdesir, bakal ketara ada sensasi warna pink di pasirnya. Apalagi kalo pagi sama sore, karena bias sinar matahari bikin kesan warna pink makin tajam. Pas saya tanya sama orang warung asal muasal pasir pink ini, salah satu Bapak bilang pasir nya ini sebenernya warna putih. Dia sih bilang kalo di sisi mana gitu, ada karang warna kemerah2an, selama beratus2 tahun kena ombak dan abrasi sehingga mengikis karang menjadi butiran2 kecil yang melebur ama pasir pantai. Jadilah pasir putih bercampur dengan butiran karang merah menghasilkan warna pasir dengan kesan merah jambu.

This was the point from this Journey. I didnt really get the high level excitement when we were in Senggigi or snorkeling in 3 gilis. This was all of sudden, we didnt really set Pink Beach into our itenerary before, but man once my feet stepped on the beach, I felt the peace on my mind, heart and admiration over this place.

WEFIE DOLOOOOO!!
WEFIE DOLOOOOO!!

Perjalanan di tengah tanah tandus, pohon2 kering, panasnya sinar matahari, sepi nya sekitar dari rumah2 dan manusia, bikin kunjungan ke Pink Beach jadi yang paling berkesan di trip Lombok saya yang pertama ini. Bangga banget bisa napakin kaki ke Pantai Pink Lombok disaat ga banyak orang ngeh sama destinasi satu ini, and this is one of the most unforgettable moment in my life.

Notes:

  • Harga tiket P. Padang Bai – P. Lembar dan sebaliknya waktu itu masih IDR 125,000. Mending ambil skejul yang jam 1AM, jadi nyampe2 pagi jam 6 bisa langsung jalan ke destinasi terdekat.
  • HOTEL ELEN jadi salah satu favorit backpacker baik domestik maupun wisman. Harganya murah, pas buat kamu yg pelit. Nyang fan bisa 100k, nyang AC bisa dapet 150k.

(this journey started in 26 Sep and ended in 29 Sep, 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s